15 April 2013

Guruku yang Terbaik

Cerita mengenai guru-guru idealis yang inspiratif tidak pernah berhenti membuat saya terharu dan terbangkit dari lamunan panjang karena tenggelam dalam rutinitas harian. Berikut cerita yang saya yakin akan membuat anda terloncat dan ingin berbuat yang sama untuk generasi muda kita. Cerita lama yang cukup sering dibahas dalam dunia pendidikan, namun baru diterjemahkan dengan baik oleh seseorang dari Jayapura. Judul cerita ini saya terjemahkan bebas sebagai "Guruku yang Terbaik". Semoga berguna.

"Best Teacher I Ever Had" oleh David Owen. Dari Reader's Digest (Asian Edition) April 1991, hal. 47-48. Terjemahan bebas oleh Fritz Haryadi.

Pak Whitson mengajar IPA kelas 6. Di hari pertama mengajar, beliau memberi ceramah tentang hewan bernama cattywampus, binatang nokturnal yang punah di zaman Es. Beliau menunjukkan sebuah tengkorak selama berceramah. Kami mendengar dan mencatat, kemudian mengerjakan soal latihan.

Saat beliau mengembalikan kertas jawaban kami, saya terkejut. Ada tanda silang dengan tinta merah di tiap jawaban saya. Ndak bener ini! Padahal saya menjawab persis seperti yang diajarkan pak Whitson tadi. Dan ternyata satu kelas salah semua jawabannya. Ada apa ini?

Sederhana sekali, kata pak Whitson. Beliau ternyata cuma ngarang soal si cattywampus. Tidak pernah ada makhluk begituan. Maka, semua jawaban yang kami tulis itu salah. Mosok kami mau dapat nilai dengan jawaban salah itu?

Terang saja, kami bete abis. Soal latihan apaan ini? Guru macam apa ini?

Kata pak Whitson, harusnya kami menyadari sejak awal. Bukankah, saat menunjukkan tengkorak tadi (yang ternyata tengkorak kucing), beliau sudah bilang bahwa tidak pernah ditemukan sedikitpun sisa-sisa dari itu binatang? Beliau tadi menjelaskan betapa hewan itu punya penglihatan malam hari yang hebat, dijelaskannya pula warna bulunya, dan segala informasi yang seharusnya tidak beliau ketahui (karena kan tidak pernah ditemukan sisa-sisa hewan itu). Dari nama hewannya saja sudah aneh, dan kami masih saja tidak curiga. Semua nilai nol pada soal latihan kami akan tetap dicatat dalam buku nilai, kata beliau. Dan beliau tidak main-main.

Kata pak Whitson, beliau berharap kami memetik pelajaran dari pengalaman ini. Guru dan buku tidaklah kedap-salah. Bahkan, tidak seorangpun kedap salah. Kata beliau, kami tidak boleh membiarkan pikiran kami tertidur, angkat bicaralah kalau menurut kami beliau salah, atau buku salah.

Tiap pertemuan di pelajaran pak Whitson adalah petualangan. Saya masih ingat hampir semua ajaran beliau. Suatu hari beliau bilang, mobil VW miliknya adalah makhluk hidup, organisme. Dua hari penuh baru kami dapat menyusun argumen bantahan yang bisa diterima beliau. Ia tidak sudi melepaskan kami sebelum kami mampu membuktikan tidak saja bahwa kami tahu apa itu organisme, tetapi juga bahwa kami punya keberanian untuk mempertahankan apa yang benar.

Sikap skeptis yang baru kami warisi itu, kami bawa ke semua pelajaran lain. Ini jadi masalah buat guru-guru lain, yang tidak terbiasa ditantang. Di tengah pelajaran sejarah, misalnya, ada saja yang berdehem, lalu ada yang nyeletuk "cattywampus".

Satu-satunya guru yang pernah meminta saya mengusulkan solusi untuk permasalahan yang terjadi di sekolah, hanya pak Whitson. Saya belum pernah menghasilkan penemuan hebat, tetapi pelajaran pak Whitson telah memberi saya dan teman-teman sekelas sesuatu yang tak kalah penting : keberanian untuk menatap orang tepat di matanya dan mengatakan bahwa ia salah. Beliau juga mengajarkan bahwa hal itu bisa dilakukan dengan asyik.

Tidak semua orang mampu memahami nilai yang terkandung dalam pelajaran ini. Saya pernah bercerita tentang pak Whitson kepada seorang guru SD, dan ia tak senang mendengarnya. "Dia tidak boleh membohongi murid begitu," katanya. Saya tatap guru itu tepat di matanya dan saya katakan bahwa ia salah.

Sumber : http://www.comp.nus.edu.sg/~tantc/cattywampus.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...