12 November 2011

Filosofi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan

Pendidikan teknologi dan kejuruan berakar dari pemikiran dan filosofi yang telah berkembang di dunia ini sejak ribuan tahun yang lalu. Pendidikan jenis ini adalah kebutuhan dasar manusia yang berkembang seiring majunya peradaban manusia. Perkembangan pendidikan vokasi sangat tergantung pada perkembanganilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan vokasi harus adaptif dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan jenis ini akan terus berkembang di masa depan dimana peran SDM berkualitas semakin tinggi. Globalisasi juga akan sangat berperan karena penyediaan tenaga kerja berkualitas akan terjadi tanpa mengenal batas geografis. Berikut analisis perjalanan pendidikan vokasi dan relasinya dengan pendidikan teknologi dan kejuruan.

  • Plato (427-347 SM). Plato mendasari pemikirannya pada "negeri ideal" dimana negara adalah pihak yang bertanggungjawab terhadap pendidikan masyarakatnya. Plato beranggapan bahwa anak-anak haruslah dipisahkan dari ibunya, negara yang harus menjaga dan mendidik mereka. Mereka yang telah dididik kemudian berperan sebagai penjaga negeri dan ikut merawat dan membantu warga yang lebih lemah.
  • Ibnu Sina (980-1037 M). Menurut Ibnu Sina, tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. 
  • Immanuel Kant (1724-1804). Salah satu hal paling sentral dari pemikirannya adalah prinsip “pengembangan karakter” dan “pendidikan moral”.  Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang didasari pada prinsip-prinsip universal tersebut.
  • Ibnu Thufail (sekitar 1105–1185 M). Ibnu Thufail yakin bahwa Sang Pencipta itu ada dan ia juga menyaksikan bahwa segala eksistensi di alam ini bagaimanapun berbedanya ternyata mempunyai titik-titik kesamaan baik dari segi asal maupun pembentukan. Ini mengarahkannya pada pemikiran bahwa segala yang ada ini bersumber dari subyek yang satu (causa prima) maka iapun mengimani Tuhan yang satu.
  • Jean-Jaccques Rousseau (1712-1778). Rousseau menganggap bahwa proses belajar lebih efektif dilalui lewat pengalaman. Rosseau tidak sependapat dengan pendidikan yang dijalankan dengan disiplin ketat dan menuntut kepatuhan luar biasa dari siswa. Rosseau yakin bahwa manusia itu menurut kodratnya baik, tetapi lalu dibusukkan oleh kebudayaan. Salah satu elemen kebudayaan yang bertanggungjawab adalah pendidikan, maka pendidikan harus ditransformasikan.

Sintesis untuk Pengembangan Pendidikan Vokasi

Pemikiran Plato ini sejalan dengan prinsip pemerataan pendidikan di Indonesia. Masih banyak anak negeri yang belum merasakan pendidikan yang disediakan negara. Sekolah belum tersedia dalam jumlah cukup, guru belum memadai dari sisi kuantitas dan kualitas, dll. Pemerataan pendidikan adalah masalah besar di Indonesia termasuk untuk pendidikan vokasi. Prinsip pemerataan dan tentu saja kualitas pendidikan vokasi harus menjadi isu sentral karena luasnya wilayah negeri kita serta tingginya variasi keadaan daerah di Indonesia.

Pemikiran Ibnu Sina ini sangat relevan dengan keadaan pendidikan vokasi di Indonesia. Salah satu masalah paling mendasar pendidikan kita adalah bagaimana menstimulasi rasa ingin tahu dan kreatifitas dalam diri setiap murid. Keadaan yang terjadi saat ini justru terbalik, dalam banyak kasus justru pendidikan malah membunuh dan tidak menghargai kreatifitas. Tingkat kreatifitas sangat kurang, padahal faktor ini sangat dibutuhkan dalam pendidikan vokasi.

Kant berpegang pada prinsip “pengembangan karakter” dan “pendidikan moral”. Prinsip ini boleh dikatakan terabaikan di Indonesia. Keluhan akan generasi muda negeri kita yang semakin terkikis moralnya semakin mengemuka. Dalam pendidikan vokasi, masalah ini sangat berhubungan erat dengan pembentukan mentalitas kerja para peserta didik. Terbukti dalam banyak kasus bahwa alumni yang sukses di dunia kerja adalah yang memiliki keteguhan mental yang baik.

Pendidikan berbasis nilai-nilai Ketuhanan yang dikemukakan Ibnu Thufail sudah semakin luntur diterapkan dalam pendidikan di negeri kita. Dalam pendidikan vokasi, ini juga adalah bagian tak terpisahkan dari pembentukan karakter pekerja seutuhnya, tidak boleh didekati secara terpisah.

Kemudian Rousseau mengemukakan bahwa proses belajar lebih efektif dilalui lewat pengalaman. Ini juga adalah faktor penentu dalam keberhasilan pendidikan vokasi, termasuk di negeri kita. Prinsip ini sudah sejak awal dikembangkan dalam pendidikan kejuruan kita, mulai dari sistem magang, sistem ganda dan terakhir praktik industri. Masih banyak kendala dalam penerapannya, namun arahnya sudah benar.

Pengaruh terhadap Pengembangan Pendidikan Vokasi

Berdasar analisis diatas, kesimpulannya adalah pada perlunya keseimbangan faktor-faktor utama pendidikan kita, termasuk pendidikan teknologi dan kejuruan. Harus ada pembentukan karakter yang mencakup perilaku dan mentalitas kerja. Pada saat bersamaan kita tetap harus terus memperbaiki aspek transfer pengetahuan dan pengembangan ketrampilan. Khusus ketrampilan, pendekatannya adalah pada pemberian pengalaman kerja di industri karena itu adalah bentuk metode pendidikan terbaik bagi pendidikan teknologi dan kejuruan.

Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan teknologi & kejuruan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu (1) Pendidikan Kejuruan: pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. (2) Pendidikan Profesi: pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. (3) Pendidikan Vokasi: pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana.

Pendidikan teknologi dan kejuruan yang dibagi 3 jenjang di negeri kita memerlukan pendekatan yang berbeda. Mengacu pada pendapat para filsuf diatas, maka pendidikan kejuruan yang ditujukan pada segmen usia remaja pasti akan memiliki strategi dan metode yang berbeda dengan pendidikan profesi dan vokasi yang menyasar peserta didik di rentang usia dewasa. Tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dilmilikinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...