26 Desember 2012

Konsep Bimbingan dan Konseling Karir di SMK (Existing Condition)

Konsep ini dikumpulkan dari berbagai sumber untuk mendapatkan gambaran mengenai konsep bimbingan dan konseling di sekolah-sekolah Indonesia.

Klik gambar untuk memperbesar
Pendidikan vokasi atau kejuruan adalah suatu pendidikan yang berbeda dengan pendidikan umum. Berikut penjelasan (Byram & Wenrich, 1956: 50-51) tentang pendidikan kejuruan (vocational education): Vocational education is teaching people how to work effectively. Vocational education takes place when an individual or group of individuals acquires information, an understanding, an ability, a skill, an appreciation, an interest and/or an attitude, any or all of which enable him to begin or to continue in activity of a productive or service nature. Dari konsep teori ini terlihat bahwa tujuan akhir dari pelaksanaan pendidikan kejuruan adalah agar para lulusannya dapat melaksanakan kegiatan atau pekerjaan yang bersifat produktif secara efektif.

Pendidikan kejuruan diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki wawasan profesional, yaitu sesuatu yang tertanam di dalam diri seseorang yang mempengaruhi perilakunya, yaitu peduli kepada mutu (tidak asal jadi), bekerja cepat, tepat dan efisien tanpa atau dengan pengawasan orag lain, menghargai waktu, dan menjaga reputasi. Karakter seperti ini adalah karakter tenaga kerja yang disukai dan diperlukan oleh dunia kerja. Diperlukan suatu usaha pembentukan sikap profesional yang sistematis dan waktu yang lama di SMK untuk mencapai tujuan tersebut. Dibutuhkan juga perlakuan khusus (special treatment) bagi siswa tertentu, kelompok siswa tertentu, atau sekolah tertentu untuk membentuk keunggulan sesuai kondisi siswa, sekolah tempat belajarnya, dan potensi daerah tempat SMK berada (Dedi Supriadi, et al, 2002: 236).

SMK adalah salah satu sub-sistem dari sistem pendidikan nasional di Indonesia. SMK memainkan peranan strategis bagi penyediaan tenaga kerja trampil secara nasional. Ini sejalan dengan tujuan SMK dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mempersiapkan peserta didiknya untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Lebih spesifik dalam PP No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan di Pasal 1 Ayat 15, dijelaskan bahwa pendidikan kejuruan adalah salah satu bentuk pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. Berdasar Keputusan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (2008) terdapat 121 Program Keahlian di SMK.

Dalam hubungan antara tujuan penyelenggaraan SMK dengan penyiapan karir siswanya, maka harus dipertimbangkan adanya konsep pendidikan karir yang terintegrasi didalamnya. Pendidikan karir (career education) di sekolah menengah atas (high school) mencakup pemberian kesempatan pada para siswa untuk mengeksplorasi lebih jauh dunia kerja, serta menarik hubungannya dengan minat, potensi dan kemampuan diri mereka. Pendekatan bagi para siswa di jenjang ini bisa dibagi kedalam dua kelompok, yaitu: (1) para siswa yang berencana mencari pekerjaan segera setelah lulus sekolah menengah atas, serta (2) para siswa yang merencanakan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Pendekatan pendidikan karir bagi kedua kelompok ini harus berbeda namun tetap fleksibel, terutama bagi sekolah menengah yang khusus kejuruan (Wenrich & Wenrich, 1974). Terilhat jelas bahwa pendidikan karir di sekolah tidak bisa disamakan untuk seluruh siswa.

Ditinjau dari sisi sejarah, istilah bimbingan dan konseling karir berakar pada istilah vocational guidance yang pertama kali dipopulerkan oleh Frank Parson dalam buku Choosing a Vocation (1909) dan dikutip oleh Wikipedia (2012). Pada awalnya penggunaan istilah ini lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan, termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. Namun selanjutnya terjadi perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karir (career). Kedua model ini memiliki perbedaan, dimana pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan, sedang pada model karir, tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan, namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi, konsep diri, rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan.

Istilah bimbingan dan konseling karir memiliki beberapa padanan istilah dalam referensi luar Indonesia. Wikipedia (2012) menuliskan “career counseling and career coaching are similar in nature to traditional counseling. However, the focus is generally on issues such as career exploration, career change, personal career development and other career related issues. In the UK, career counseling would usually be referred to as careers advice or guidance”. Selanjutnya disebutkan bahwa tugas seorang konselor karir adalah “helping candidates to get into a career that is suited to their aptitude, personality, interest and skills; so it is the process of making an effective correlation between the internal psychology of a candidate with the external factors of employability and courses”.

Menurut Dewa Ketut Sukardi (1989), tujuan pelaksanaan Bimbingan Karir di Sekolah adalah agar siswa dapat: (1) meningkatkan pengetahuannya tentang dirinya sendiri (self concept); (2) meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja; (3) mengembangkan sikap dan nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan lapangan kerja dalam persiapan memasukinya; (4) meningkatkan ketrampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tenntang jabatan yang  sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja; dan (5) menguasai ketrampilan dasar yang penting dalam pekerjaan terutama kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berprakarsa dan lain sebagainya.

Selanjutnya dikenal juga istilah bimbingan vokasional (vocational guidance). London (1973) menyatakan bahwa “vocational guidance deals with matters of occupational choice or career planning, preparation, placement, and adjustment on the job; normally this is the phase of guidance needed most by youth in their later teens and by adults”.  Cakupan bimbingan vokasional lebih luas karena berkenaan dengan pilihan pekerjaan dan perencanaan karir di masa depan, biasanya dibutuhkan oleh siswa pada usia akhir remaja dan juga untuk para pekerja usia dewasa.

International Labour Office (2010) merumuskan bahwa kegiatan layanan bimbingan dan konseling karir terkait erat dengan empat kompetensi utama bagi para siswa agar dapat menghadapi masa depan karir mereka yaitu: (1) kesadaran diri atau pengenalan diri sendiri, (2) kesadaran akan kesempatan bekerja, (3) pembuatan keputusan pendidikan dan karir, dan (4) pembelajaran transisional dan pengetahuan akan persyaratan kerja.

Bimbingan dan konseling karir berhubungan erat dengan pendidikan karir (career education), seperti dikemukakan Calhoun dan Finch (1976) bahwa program pendidikan karir di memiliki tahapan berupa kesadaran karir, eksplorasi karir, dan persiapan karir. Berikut kutipan lengkapnya, yaitu: Career education is a sytematic attempt to increase the career options available to individuals and to facilitate more rational and valid career planning and preparations; the phases are career awareness, career exploration, and career preparation. 

Bimbingan dan konseling baik secara umum maupun khusus karir haruslah disesuaikan dengan prinsip yang berlaku di sekolah kejuruan (vocational school), tidak bisa disamakan dengan sekolah menengah umum. Ada perbedaan mendasar antara pendidikan umum dan pendidikan kejuruan, seperti disampaikan Prosser dan Miller (1985) yang dikutip Basuki Wibawa (2005) yaitu “general education prepares us to live well, vocational education prepares us to work well”. Hal ini juga didukung oleh Wenrich dan Wenrich (1974) yang menyatakan bahwa “vocational and technical education is for people, youth and adults interested in preparing for and progressing in a career in some type of satisfying and productive work”.

Kemudian lebih spesifik berkenaan dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah, disebutkan bahwa pendidikan menengah kejuruan mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional. Karenanya BK karir haruslah dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan di dunia kerja.

Sasaran kompetensi yang ingin dicapai bagi lulusan SMK sudah cukup jelas, dan memiliki perbedaan dengan siswa SMA. Karenanya implikasi terhadap layanan BK karir yang diterima juga akan berbeda. Kompetensi kunci SMK dalam menghadapi era global dijabarkan oleh Djojonegoro (1998:28-30) sebagai berikut: (1) memiliki ketrampilan dasar yang kuat dan luas, yang memungkinkan pengembangan dan penyesuaian diri sesuai sesuai dengan perkembangan IPTEKS; (2) mampu mengumpulkan, menganalisa, dan menggunakan data dan informasi; (3) mampu mengkomunikasikan ide dan informasi; (4) mampu merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan; (5) mampu bekerja sama dalam kelompok; (6) mampu memecahkan masalah; (7) berpikir logis dan mampu menggunakan teknik-teknik matematika; serta (8) menguasai bahasa komunikasi global yaitu Bahasa Inggris.

Sumber Pustaka
  • Byram, H.M. & Wenrich, R.C., (1956). Vocational education and practical arts in the community school. New York: The Macmillan Company.
  • Calhoun C.C. & Finch, A.V. (1976). Vocational and career education: concepts and operations. Belmont: WadsworthPublishing Company, Inc.
  • Basuki Wibawa. (2005). Pendidikan Teknologi dan Kejuruan: Manajemen dan Implementasinya di Era Otonomi. Surabaya: Kertajaya Duta Media.
  • Dedi Supriadi, et al. (2002). Sejarah Pendidikan Teknik dan Kejuruan di Indonesia, Membangun Manusia Produktif. Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan  Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
  • Dewa Ketut Sukardi. (1989). Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  • Djojonegoro, W. (1999). Pengembangan  Sumberdaya Manusia Melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jakarta: PT. Balai Pustaka.
  • International Labour Office. (2011). Panduan Pelayanan Bimbingan Karir bagi Guru Bimbingan Konseling/Konselor pada Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: ILO. 
  • London, H.H.(1973). Principles and techniques of vocational guidance. Columbus: Charles E. Merril Publishing Co.
  • Wenrich, R.C. & Wenrich, J.W. (1974). Leadership in administration of vocational and technical education. Columbus: Charles E. Merrill Publishing Company. Abell & Howell Company.
  • Wikipedia. (2012). Career counseling. Diambil pada tanggal 1 September 2012, dari http://en.wikipedia.org/wiki/Career_counseling 

1 komentar: