26 September 2012

Solusi Inovatif Pendidikan Vokasi dari Semarang Growth Center (SGC)

Pendidikan dan pelatihan pelaut (seaferer) dan kemaritiman (maritime) adalah salah satu bidang yang memiliki peluang masa depan yang sangat cerah bagi Indonesia. Saat ini saja ribuan pelaut Indonesia bekerja di berbagai perusahaan kapal dan maritim di seluruh dunia, dan kebutuhan terus berkembang untuk bidang pekerjaan ini. Mereka menyumbang banyak untuk devisa negara, membawa mata uang asing masuk ke Indonesia. Bedakan bidang ini dengan kelautan yang fokus pada pengelolaan sumber daya laut seperti ikan, dll. Namun pendidikan vokasional pelaut dan kemaritiman ternyata memiliki banyak tantangan terutama dalam penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran yang rumit dan mahal, serta ketersediaan instruktur yang betul-betul kompeten dan memiliki pengalaman internasional memadai. Masalah ini semakin rumit karena ketatnya standarisasi dalam pekerjaan pelaut dan kemaritiman yang diregulasi oleh IMO (International Maritime Organisation). Tetapi peraturan ketat ini memiliki sisi positif  dimana kalangan pendidikan dan pelatihan memiliki standar dan acuan yang sangat jelas dalam menjalankan kegiatan pembelajaran.


Regulasi ketat IMO mengatur secara rinci dan jelas tentang sertifikasi yang harus dimiliki oleh seorang pelaut sebelum dapat melaut di kapal-kapal lintas negara. Tidak gampang mendapatkan sertifikasi IMO di Indonesia. Masih sangat sedikit lembaga yang memiliki otoritas memberikan sertifikat. Salah satunya adalah Polimarin (Politeknik Maritim Negeri Indonesia) di Semarang, sebelumnya bernama BPLPT (Balai Pengembangan dan Layanan Pendidikan Tinggi) Semarang yang dikelola oleh Dikti Depdikbud, dan sebelumnya bernama SGC (Semarang Growth Center) dibawah pengelolaan Kopertis dan Aptisi. Dengan bantuan pinjaman dari Jerman, lembaga ini menjadi salah satu lembaga pelatihan dan pemberi sertifikat pelaut dan kemaritiman yang ada di Indonesia.

Semakin banyak lembaga pendidikan vokasi mulai dari SMK (jurusan pelaut dan pelayaran) serta akademi dan sekolah tinggi bidang yang sama yang mengirimkan siswa dan mahasiswanya (mereka sebut dengan kadet) ke Polimarin untuk mendapatkan pelatihan dan sertifikasi. Kenapa mereka mengirimkan para kadet mereka ke Polimarin?

Alasannya sangatlah praktis. Hampir semua lembaga pendidikan vokasi pelaut dan maritim di Indonesia (yang jumlahnya cukup banyak) tidak memiliki fasilitas pembelajaran memadai dan instruktur yang mumpuni. Namun kebutuhan pasar kerja memerlukan banyak sekali pekerja bidang ini, baik di pasar internasional maupun lokal. Hukum ekonomi pun berlaku. Tidak bisa dihindari bermunculanlah lembaga pendidikan dan pelatihan vokasional yang memanfaatkan peluang ini. Didirikanlah berbagai sekolah tinggi, akademi dan SMK bidang ini, tetapi mereka tidak memiliki fasilitas dan instruktur memadai. Niat dan semangat para "pejuang" pendidikan ini harus diapresiasi, namun kendala teknis yang muncul juga tidak mungkin dihadapi secara cepat. Mengharapkan lembaga-lembaga ini untuk memiliki fasilitas dan instruktur sesuai standar tampaknya tidak mungkin. Jika mungkin pun, lembaga harus memiliki sumber pendanaan yang sangat besar, suatu hal yag tidak mungkin jika hanya mengandalkan pemasukan dari SPP peserta.

Melalui kerjasama pinjaman G to G dengan Jerman, maka SGC bisa mendapatkan fasilitas pembelajaran kelas dunia serta kemampuan untuk menarik dan mendidik instruktur berkualitas global. SGC saat ini memiliki salah satu fasilitas simulator kapal berstandar tinggi, simulator 3 dimensi fully computerised ala Holodeck di film Star Trek, simulator kapal yang mampu membuat mabuk laut bagi pemakainya. SGC juga memiliki fasilitas mesin kapal lengkap yang dapat dihidupkan dan disimulasi persis seperti yang ada di kapal standar dunia.

Disinilah menariknya ide dasar pembentukan SGC dan BPLPT (diteruskan oleh Polimarin), yaitu pembentukan lembaga pemerintah yang memiliki kemampuan pendanaan dan fasilitas besar untuk membantu para penyelenggara pendidikan dan pelatihan untuk dapat memanfaatkan fasiltas dan instruktur berkualitas secara bersama-sama. Istilah "growth center" tampaknya memang diarahkan untuk membantu pengembangan kualitas pendidikan di suatu kawasan.

Saat ini Polimarin semakin sibuk melayani berbagai "pesanan" pelatihan dan sertifikasi dari lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan yang ada di sekitarnya. Lembaga-lembaga pemesan tersebut juga dapat tenang dan bisa "berjanji" pada para kadetnya bahwa mereka akan mendapatkan pelatihan berkualitas dan sertifikasi berstandar internasional, walaupun bersekolah di lembaga yang tidak memiliki fasilitas dan instruktur memadai.

Saat ini tersedia 10 jenis pelatihan berstandar IMO yang dilakukan yaitu:
  1. Basic Safety Training (BST) - 8 hari
  2. Survival Craft and Rescue Boat (SCRB) - 4 hari
  3. Medical First Aid (MFA) - 3 hari
  4. Medical Care (MC) - 5 hari
  5. RADAR/ARPA Simulator - 8 hari
  6. GOC-GMDSS - 18 hari
  7. ROC-GMDSS - 8 hari
  8. Bridge Team Management (BTM) - 5 hari
  9. Bridge Resource Management (BRM) - 5 hari
  10. Crisis & Crowd Management (CCM) - 3 hari
Para peserta pelatihan hampir seluruhnya adalah kadet dari perguruan tinggi vokasi dan SMK dari Semarang dan sekitarnya serta juga dari luar Jawa.

Model kerjasama seperti ini harusnya bisa menjadi solusi untuk membantu peningkatan kualitas pendidikan vokasional di Indonesia. Ditengah banyak pendidikan vokasi "sastra" alias hanya belajar teori saja tanpa praktek yang berkualitas, pola ini bisa membawa angin segar. Pola yang sama juga konon dilakukan di Solo Techno Park serta juga di tempat lain. Jika anda memiliki informasi, silahkan ikut berbagi disini..

Simulasi anjungan kapal (bridge) 3 dimensi yang sangat canggih

Para instruktur membimbing para kadet di anjungan dari ruang kontrol (seluruh komunikasi teknis dilakukan dalam Bahasa Inggris)

Suasana para kadet berlatih dengan instruktur berpengalaman internasional

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...