Membandingkan Pendidikan Denmark, Lithuania dan Amerika Serikat

Sangat menarik belajar dengan membandingkan apa yang telah dilakukan oleh negeri lain, merefleksikannya ke apa yang telah kita lakukan di negeri sendiri, tidak terkecuali tentang pendidikan. Saya beruntung bisa berada di suatu diskusi kecil yang digagas Prof. Slamet PH (UNY) di dalam kelas perkuliahannya. Diskusi komparasi pendidikan antara 3 negara yaitu Denmark, Lithuania dan Amerika Serikat. Narasumber adalah 3 mahasiswa dari ketiga negara tersebut yang sedang belajar di Yogyakarta. Sayang sekali waktu diskusi sangat terbatas sehingga tidak bisa luas dan mendalam. Berikut catatan kecil tentang diskusi ini, tentu saja tidak bisa lengkap bak tulisan ilmiah, namun semoga bisa jadi gambaran dan memicu studi komparasi lebih jauh demi perbaikan pendidikan kita. Baca juga tulisan-tulisan lain dalam blog ini tentang comparative study.

Narasumber dari Lithuania, Amerika Serikat, Denmark dan Prof. Slamet PH

Denmark

Denmark adalah negara kaya dengan penduduk hanya 5,5 juta yang menggratiskan semua level pendidikannya, tidak hanya bagi warga negaranya, bahkan untuk warga Uni Eropa lain. Siapapun dipersilahkan sekolah sampai tingkat setinggi-tingginya. Itu adalah salah satu penyebab kenapa hampir semua penduduk Denmark melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun bagi warga negara yang merasa tidak memiliki kemampuan akademis dan memilih untuk masuk ke pendidikan vokasi, disediakan jalur vokasi mulai dari tingkat sekolah menengah (secondary level) dengan sebutan business atau engineering high school. Sistem pendidikan juga dibuat semudah mungkin agar seluruh warga bisa dengan mudah mengaksesnya.

Denmark memberlakukan ujian akhir standar nasional bagi seluruh calon lulusan sekolah menengah atas. Ujian dilakukan serentak di seluruh negeri, penyelenggaraan dilakukan di sekolah masing-masing. Tidak seheboh di Indonesia, namun prinsipnya sama. Tidak ada entrance exam (seleksi masuk) ke perguruan tinggi, namun nilai hasil ujian akhir SMA yang langsung dipakai sebagai dasar untuk diterima masuk ke perguruan tinggi.

Denmark adalah negeri yang mengandalkan pada knowledge economy, mereka sadar sepenuhnya bahwa hanya warga yang punya pendidikan baiklah yang akan membuat mereka survive dan menang dalam persaingan global. Ketika ditanya apakah kemudahan seperti itu tidak membuat mereka terlena dan menjadi malas, tidak ada persaingan karena semua sudah tertata dan terjamin. Dengan yakin sang mahasiswa Denmark menjawab bahwa dia tidak melihat hal itu terjadi. Sambil bergurau dia mengatakan bahwa warga negeri dingin seperti Denmark tidak bisa bermalas-malasan karena pasti akan beku kedinginan.

Lithuania

Negeri pecahan Uni Soviet ini memiliki kondisi yang unik, banyak miripnya dengan Indonesia kecuali dari sisi  populasi penduduk yang hanya 3 juta orang. Lithuania masih tertinggal jauh dari negara-negara Eropa bagian barat yang jauh lebih maju dalam berbagai aspek. Namun karena posisinya yang saat ini adalah bagian dari EU (Uni Eropa), maka ada banyak hal positif yang didapat dan memicu pertumbuhan lebih cepat dalam segala bidang.

Pendidikan tidak gratis di negeri ini, namun masih tergolong murah dan terjangkau karena banyak dukungan pemerintah. Namun tidak seperti Denmark, warga harus berjuang keras agar bisa mencapai pendidikan lebih tinggi dan agar bisa mendapat beasiswa. Hanya warga yang berprestasilah yang akan mendapat kemudahan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi. Namun secara umum sebagian besar warga negeri ini masuk ke perguruan tinggi (80% lulusan SMA masuk perguruan tinggi). Ini disebabkan karena kecenderungan pasar kerja yang lebih memprioritaskan untuk menerima lulusan perguruan tinggi. Pendidikan juga adalah simbol status sosial bagi warganya. Anak-anak yang sekolah tinggi dan mendapat beasiswa adalah faktor penting kebanggaan orang tua. Fenomena ini mendorong orang tua untuk memacu anak-anaknya agar bisa berprestasi tinggi di sekolah. Banyak kemiripan dengan Indonesia.

Yang unik adalah cerita tentang ujian akhir nasional SMA yang diterapkan di Lithuania. Ujian ini dilaksanakan secara sangat heboh dan penuh ketegangan. Distribusi soal dijaga penuh oleh polisi. Proses ujian diatur rumit dimana setiap siswa tidak boleh melaksanakan ujian di sekolahnya sendiri, jadi harus disilang ke sekolah lain sehingga pengawas bukan gurunya sendiri. Pemeriksaan soal juga dijaga ketat agar tidak timbul kecurangan. Wow!

Ketika ditanya kenapa hal ini bisa terjadi, narasumber tidak menjawab secara terus terang, hanya jawaban diplomatis. Ketika dikejar apakah memang ada kecenderungan kecurangan di masa lalu? Dia hanya merespons diplomatis, "Orang Lithuania juga suka mencontek, sama seperti di negara lain". Informasi ini mungkin bisa membuat tenang Depdikbud kita, ternyata di luar sana ada negara yang melaksanakan Unas seperti kita, penuh kehebohan, ketegangan, tekanan, dll.

Ujian akhir berstandar nasional bagi siswa SMA memiliki 5 materi atau bidang. Siswa tidak harus menjalani semuanya, namun cukup bidang-bidang (atau 1 bidang) yang sesuai dengan tujuannya di perguruan tinggi nanti. Jadi ujian akhir SMA ini juga berlaku sebagai dasar penerimaan di perguruan tinggi. Tidak ada sekolah menegah kejuruan disana, semua adalah sekolah umum. Penjurusan dilakukan di perguruan tinggi, demikian juga jurusan vokasional.

Amerika Serikat

Cerita tentang sistem pendidikan di negeri Paman Sam mungkin sudah banyak kita dengar. Namun sang narasumber membawakannya secara unik. Dia katakan bahwa sekolah di USA semua gratis hingga SMA, kemudian juga gratis untuk masuk perguruan tinggi, hingga ke level tertinggi sekalipun. Namun untuk perguruan tinggi sebagian mahasiswa bisa "gratis" karena adanya sistem student loan (pinjaman pendidikan untuk mahasiswa). Sistem ini sudah diterapkan sejak lama dan sudah mapan dalam implementasinya. Pinjaman ini sangat mudah untuk didapat dan bisa meliputi seluruh aspek biaya sekolah. Namun nanti harus dibayar secara mencicil setelah peminjam bekerja. Sedangkan biaya pendidikan di sekolah dasar hingga menengah atas gratis ditanggung oleh pemerintah.

Amerika Serikat tidak memiliki sekolah menengah atas khusus kejuruan. Pada level pendidikan ini semua adalah sekolah umum seperti SMA. Pendidikan vokasional baru tersedia secara khusus di perguruan tinggi atau pasca sekolah menengah atas seperti Community College yang berdurasi 1-2 tahun. Lulusan Community College dapat melakukan transfer dan melanjutkan ke bachelor degree di universitas dengan jurusan yang relevan.

Salah satu hal menarik yang disampaikan oleh narasumber adalah "pengakuan" betapa semakin sedikitnya warga asli Amerika Serikat yang senang dan memilih masuk jurusan engineering atau teknik. Bahkan sebuah sumber data menyatakan bahwa jumlah total enrollment di jurusan engineering di USA hanya 7% dari total seluruh mahasiswa di perguruan tinggi (bandingkan dengan 70% di negara Jepang). Hal ini memaksa pemerintah "mengundang" dengan memberi berbagai kemudahan bagi warga asing yang punya talenta tinggi dalam bidang matematika dan sains untuk bersekolah di perguruan tinggi Amerika Serikat. Suatu fenomena yang menyedihkan untuk negara semaju USA.

Pendidikan Amerika Serikat sangat liberal, baik dari sisi biaya pendidikan hingga sistem dan pola pembelajaran. Pendidikan menyediakan jalan mulus dan cerah bagi para siswa dan mahasiswa yang bekerja keras dan memiliki prestasi tinggi, namun tidak bagi yang malas dan rendah prestasinya. Sukses dalam pendidikan di Amerika memerlukan perjuangan keras dan konsistensi tinggi. Tidak semua warga bisa sukses dan mendapat pekerjaan yang sesuai dan membawa kesejahteraan.

Uni Eropa (EU - European Union)

Ada informasi menarik dalam diskusi ini tentang kondisi terakhir di Eropa, terutama atas usaha-usaha penyatuan Eropa yang terus maju tetapi menghadapi begitu banyak hambatan. Salah satunya adalah dalam aspek pendidikan, dimana EU melalui apa yang disebut Bologna Process sedang berusaha keras untuk memadukan sistem pendidikan di seluruh negara yang tergabung dalam EU. Harapannya akan tercipta suatu standar dan kualitas dari kualifikasi pendidikan tinggi yang setara/sebanding (comparable) di seluruh EU.

Ada banyak kebaikan dalam usaha ini, namun juga akan menghadapi berbagai kendala dalam pelaksanaannya. Contohnya, seorang mahasiswa asal Lithuania akan bisa bersekolah di perguruan tinggi Denmark dan menikmati semua keunggulan yang ada disana secara gratis atas biaya para pembayar pajak Denmark, namun pada saat lulus ybs akan pergi dan tidak berkontribusi apapun bagi Denmark. Kasus seperti ini tentu saja akan memicu banyak masalah karena akan memberikan keuntungan luar biasa bagi warga dari negara yang relatif miskin dengan mutu pendidikan rendah. Namun akan mendatangkan kerugian bagi negara-negara yang sudah memiliki kualitas institusi pendidikan sangat baik dan menyediakannya secara gratis.

Ada banyak hal dalam diskusi ini tidak relevan dengan keadaan di Indonesia, namun ada banyak perspektif baru yang bisa kita jadikan acuan positif.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. bersatu sebagai UNI Eropa dalam pendidikan memberikan manfaat terbesar semua negara anggota, karena yang kuat bantu yang lemah sehingga mereka akan kuat jg bahkan lebih kuat untuk membantu yang lain lebih kuat. jadi perspketik berpikir kita harus positif, karena masalah selalu ada tergantung cara kita mengelolanya, karena masalah jg mendewasakan kita, khususnya dalam pendidikan di negara kita syalooom

    BalasHapus
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)