10 September 2012

Bimbingan & Konseling Sekolah di Persimpangan Jalan

Sebuah survei yang dilaksanakan terhadap lebih dari 5.300 sekolah menengah dan konselor SMA mengungkapkan keprihatinan mendalam dalam profesi konselor sekolah dan menyoroti peluang untuk lebih memanfaatkan mereka di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Ungkapan rasa frustrasi dan harapan konselor sekolah adalah pesan utama dari laporan ini, bahwa saat ini konselor sekolah sebagai profesi sedang ada di persimpangan jalan.

Meskipun jelas disuarakan tentang aspirasi dan keyakinan para konselor untuk secara efektif membantu siswa untuk berhasil di sekolah dan mewujudkan impian mereka, namun misi dan peran konselor dalam sistem pendidikan harus dibuat lebih lebih jelas, sekolah harus membuat langkah-langkah untuk memantau efektivitas mereka. Pada saat bersamaan para pembuat kebijakan dan stakeholder kunci harus mengintegrasikan konselor dalam upaya reformasi pendidikan untuk memaksimalkan pengaruh mereka di sekolah-sekolah di seluruh Amerika. Para konselor sekolah sangat mengerti bahwa misi mereka adalah untuk mempersiapkan para siswa untuk lulus sekolah dan masuk perguruan tinggi, dan mempersiapkan karir para calon lulusan di masa depan. dari survey didapatkan bahwa mereka siap untuk memimpin dan mendorong upaya mempercepat prestasi siswa, di sekolah, karir dan kehidupan.

Penelitian survey ini dilaporkan oleh John Bridgeland dqn Mary Bruce dari College Board Advocacy & Policy Center dalam laporan berjudul "2011 National Survey of School Counselors: Counseling at a Crossroads".

Laporan ini cukup berharga sebagai referensi kita di Indonesia untuk tidak berkecil hati. Kita semua tahu betapa tidak signifikannya upaya-upaya bimbingan dan konseling (BK) di sekolah-sekolah kita, namun kita juga harus sadar bahwa fenomena ini terjadi secara luas dalam skala global. Jika kita cepat menyadarinya, maka poin ini bisa menjadi titik terang kedepan untuk membawa keunggulan sekolah kita di Indonesia. Bimbingan dan konseling diakui oleh semua pihak memiliki peran krusial dalam meningkatkan kualitas pendidikan, namun dalam kenyataannya peran para konselor dalam mengemban misi dan pekerjaannya masih belum dianggap penting oleh para stakeholder pendidikan.

Di Indonesia sendiri, masih banyak kendala yang dihadapi baik oleh para konselor yang ada di sekolah serta juga manajemen sekolah dalam menjalankan program BK dengan baik. beberapa kendala yang dihadapi diantaranya:

  1. Adanya kesalahan persepsi di kalangan stakeholder sekolah  (guru, siswa, orang tua, dll) yang menganggap BK adalah layanan hanya bagi para siswa yang bermasalah.
  2. Adanya ketidakpedulian dari para guru serta seluruh staf pendukung yang ada di sekolah dalam kegiatan BK, hal ini disebabkan ketidakmengertian mereka akan pentingnya kerjasama semua pihak dalam menjalankan program BK.
  3. Peran serta Kepala Sekolah yang sangat minim dalam mendorong terlaksananya kegiatan BK di sekolah yang dipimpin.
  4. Tidak adanya alat ukur kesuksesan yang tersosialisasi secara merata tentang keberhasilan program BK di sekolah sehingga tidak ada reward yang bisa memicu semangat kerja para guru BK dan konselor.
  5. Adanya persepsi yang salah bahwa BK tidak berkontribusi banyak secara langsung pada pencapaian kinerja sekolah.
  6. Kenyataan bahwa peran BK di sekolah terpinggirkan (marginalized) secara organisasi dan sosial, hal ini mengakibatkan kinerja BK yang makin menurun.
Tentu saja kondisi setiap sekolah berbeda, tidak semua masalah diatas dimiliki oleh sekolah. Ada banyak sekolah yang sudah berhasil menjadikan program BK menjadi "primadona" dan mampu memberikan kontribusi bagi sekolah dalam mencapai prestasi. Namun secara umum, sekolah-sekolah di Indonesia masih belum mampu menjalankan program BK dengan baik dan berkontribusi terhadap pencapaian prestasi sekolah.


1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...