23 Juni 2012

Pengelolaan SDM di Industri dan Bisnis

Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) memiliki banyak variasi konsep yang dikembangkan oleh banyak pakar sesuai kondisi dan kebutuhan. Salah satu pakar bidang ini di Indonesia adalah Prof. Asip Hadipranata dari UGM Yogyakarta. Konsep manajemen SDM yang dikembangkan pada prinsipnya mirip dan memiliki tujuan sama dengan banyak konsep lain, namun konsep ybs memiliki keunikan karena dikembangksan sesuai pengalaman langsung penerapan di Indonesia. Pengelolaan SDM harus memperhitungkan kondisi lokal, kita tidak bisa mengembangkannya hanya dengan menjiplak konsep yang dikembangkan di kondisi berbeda. Konsep Guru Besar UGM ini juga sangat religius dan berakar pada budaya lokal khususnya Jawa. Beliau juga banyak menggunakan berbagai bentuk akronim yang menarik dan menggugah imajinasi.

Berikut 10 pilar pengelolaan SDM di Industri dan Bisnis dari Prof. Asip Hadipranata yang sangat layak untuk dicermati dan dipelajari.



Konsep ini berpijak pada "problem dan kasus" yang ada di suatu lingkungan tertentu dimana pengelolaan SDM akan diterapkan. Prinsip ini penting karena segala tindakan dan keputusan manajemen yang diambil haruslah memiliki dasar yang diambil dari masalah-masalah yang muncul di organisasi dan lingkungannya. Langkah yang diambil akan bisa berbeda antar satu organisasi satu dengan organisasi lain. Jadi, hal pokok pertama yang harus dilakukan dalam suatu pola pengelolaan SDM yang baik adalah identifikasi problem dan kasus yang ada.

Selanjutnya 10 langkah atau pilar dalam pengelolaan SDM meliputi:
  1. Rekrutmen
  2. Seleksi
  3. Penempatan
  4. Diklatbang
  5. Mutasi/Promosi
  6. Kendali Lelah/Bosan
  7. Etos Kerja
  8. Rekayasa Metode
  9. OB/OCD
  10. Konsumerisme
Sungguh menarik mencermati kesepuluh elemen tersebut karena susunannya serta karena adanya beberapa elemen yang "unik". Sebagai keterangan tambahan, diklatbang adalah pendidikan, pelatihan dan pengembangan. Kemudian OB/OCD adalah organization behaviour atau organization and culture development.

Hampir seluruh aspek sudah kita kenal bersama, Namun ada beberapa hal yang mungkin memerlukan keterangan, seperti "rekayasa metode", maksudnya adalah pada pengembangan cara kerja yang meliputi improvisasi metode/sistem/prosedur kerja serta inovasi alat perlengkapan kerja. Kemudian "kendali lelah/bosan" adalah suatu upaya untuk mengatur kerja sedemikian rupa sehingga pekerja tidak sampai harus bekerja pada level yang melelahkan dan membosankan. Aspek ini erat kaitannya dengan pengendalian beban kerja, namun dibahasakan sangat komunikatif dengan istilah lelah/bosan.

Elemen menarik yang khas adalah pada elemen "etos kerja" atau sikap yang dijabarkan sebagai:
  1. SIKAP (Saya ingin kinerja apik dan pantes)
  2. LUWES (Layanilah ulah/upayanya, walau dengan empati dan simpati)
  3. APIK (Akrab, percaya diri, ikhlas dan komunikatif)
  4. ETOS (Evaluasi, tataran/harapan, optimal/puncak dan semangat)
  5. PANTES (Perhatian/penuh, ajakan/positif, normalkan suasana, tawarkan ide, etos tangguh, semangat utuh)
  6. SEMANGAT (Senang/suka, emosi stabil/EQ, arah maju, naikkan prestasi, gegap-gempita, amankan capaian, target bersama)
  7. KERJA (Karya apapun efek/hasilnya rezeki halal, jaya, aman tenteram)
  8. PUAS (Perilaku ulang/unggul, andal/asyik, syukur selalu).
Hal unik lagi adalah dimasukkannya elemen "konsumerisma" kedalam pilar dasar pengelolaan SDM ini.
Namun konteksnya jelas karena kerangka ini dikembangkan sebagai bagian dari konsep psikologi industri organisasi bisnis yang tidak bisa dipisahkan dari konsumen sebagai pilar penting suatu industri dan bisnis. Konsumerisme disini dimaknai sebagai  suatu rangkaian upaya untuk mengerti filsafat konsumen, melakukan pendidikan konsumen dan bimbingan konseling konsumen. Apakah anda merasa bahwa hal ini seharusnya masuk ke bidang marketing? Bisa demikian, namun Prof. Asip Hadipranata melihat bahwa aspek konsumen harus sudah "disentuh" dan menjadi bagian tanggung jawab integral seluruh SDM dalam organisasi. Konsep ini sangat "customer oriented" dan saya yakin dimasukkan karena lemahnya kesadaran SDM Indonesia dalam melihat konsumen sebagai hal terpenting dalam industri dan bisnis.

Guru besar yang satu ini sungguh unik dan memberikan banyak nuansa ke-Indonesia-an dalam menjabarkan dan mengimplementasikan konsep-konsep psikolagi dan pengembangan SDM. Ikuti terus catatan saya tentang konsep psikologi industri di blog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...