19 Maret 2012

Peluang Penerapan Internship di SMK

Internship adalah suatu bentuk dari apprenticeship. Kedua istilah ini diterjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai “magang”. Karenanya dalam tulisan ini kedua istilah tidak diterjemahkan namun tetap menggunakan kata asli dalam bahasa Inggris. Secara umum apprenticeship biasanya digunakan utk aktivitas yang bersifat ketrampilan atau keahlian kerja (craftsmanship), sementara internship lebih dipersepsikan sebagai bentuk pengembangan profesional dari para pekerja berpendidikan yang baru lulus dari pendidikan sarjana.

Program internship adalah suatu program "belajar kerja terstruktur" (baik dibayar maupun tidak dibayar) setelah seseorang menjadi sarjana atau program lain yang setara. Selama ini biasa diasosiasikan dengan profesi kesehatan atau yang terkait. Mahasiswa biasanya dipersyaratkan untuk melaksanakan internship setelah mereka menyelesaikan studi namun sebelum mendapatkan kualifikasi (sertifikat kompetensi) atau lisensi untuk praktek.

Ide utamanya adalah untuk melanjutkan dari studi yang bersifat teori ke aplikasi praktek dalam rangka pengembangan ketrampilan yang berhubungan dengan dunia kerja. Karenanya, di satu sisi sebenarnya internship sama dengan apprenticeship. Namun, satu perbedaan kunci adalah dimana seorang peserta internship adalah anggota suatu perkumpulan profesi dan mereka memang diharapkan mengikuti program pengembangan profesi yang berkesinambungan. Sementara apprenticeship tidak memberikan suatu status profesional pada individu yang telah menyelesaikan program.

Contoh Internship

Program internship memiliki banyak perbedaan antara profesi atau pekerjaan yang berbeda. Sebagai contoh di Inggris Raya, lulusan sekolah farmasi harus melaksanakan internship selama kurun waktu tertentu di perusahaan farmasi, rumah sakit atau apotik sebelum mereka diterima di Perkumpulan Farmasi Inggris Raya dan mendapatkan lisensi untuk melakukan praktek.

Manfaat Internship

Ada banyak kesamaan manfaat antara internship dengan apprenticeship, namun beberapa catatan penting perlu dikemukakan, walau telah banyak usaha dilakukan untuk mendekatkan dunia pendidikan dan dunia kerja, namun pendidikan sarjana masih terus terjebak pada metode belajar berbasis kelas dan terputus hubungannya dengan pengalaman kerja nyata. Akibatnya, dalam profesi kesehatan sangat penting untuk memiliki program internship dimana peserta didik wajib mendapatkan kualifikasi profesional sebelum masuk ke dunia kerja sebenarnya. Tanpa program ini, maka para pemula bisa berpotensi membahayakan bagi pekerjaannya.

Keterbatasan Internship

Penggunaan pendekatan sekuensial atau berurutan, pendidikan terlebih dahulu kemudian praktek memiliki potensi bahaya juga. Peserta internship akan tidak siap karena menghadapi kenyataan bahwa banyak pelajaran yang didapat dalam pendidikan ternyata tidak bisa sepenuhnya diterapkan dalam pekerjaan nyata, sebagai contoh di rumah sakit. Dalam dunia kerja nyata ada banyak hal yang memerlukan penyesuaian antara teori dan praktek. Hal ini mengakibatkan pendekatan murni internship jarang dilakukan, namun dikombinasi dengan adanya kegiatan praktek kerja secara parsial didalam masa pendidikan awal di sekolah.

Tips Pelaksanaan

Jika ingin mengadakan suatu program internship (atau program lain yang sebanding) sebelum mendapatkan kualifikasi profesional, ada beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan antara lain:
  • Pilihlah orang-orang profesional yang memiliki kemampuan dan kualifikasi tinggi untuk tempat bekerja internship, yaitu pihak-pihak yang menjadi teladan dalam praktek di profesi dimaksud.
  • Pastikan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk membimbing dan memperlihatkan cara kerja yang benar, orang yang hebat dalam pekerjaan belum tentu bagus jika diminta menerangkan apa yang mereka kerjakan, jika terjadi demikian maka akan sulit bagi peserta internship untuk mendapatkan pengalaman kerja yang optimal.
  • Siapkan para peserta internship agar mereka mengerti dengan baik apa yang harus mereka cari dan pelajari selama program, hal ini akan sangat membantu mereka mencari jalan sebaik-baiknya di lapangan untuk mendapatkan pengalaman kerja yang dicari.
  • Siapkan daftar sasaran pembelajaran selama internship agar peserta dan pembimbing dapat mengetahui dan memantau bersama kemajuan pencapaian sasaran pembelajaran di tempat kerja.
Keunggulan & Kelemahan Internship

Keunggulan
  • Adanya totalitas dalam pelaksanaan praktek kerja yang dilaksanakan dalam keadaan kerja sebenarnya.
  • Bimbingan program internship dilakukan langsung oleh pembimbing lapangan yang sangat menguasai bidang kerja, pembimbing juga berperan sebagai atasan kerja sebenarnya,
  • Evaluasi pencapaian sasaran program internship berhubungan langsung dengan adanya sertifikat kualifikasi atau lisensi praktek yang berhubungan erat dengan masa depan peserta internship, hal ini menimbulkan motivasi tinggi untuk melaksanakan praktek kerja sebaik-baiknya.
Kelemahan
  • Ada kecenderungan peran pembimbing dari institusi pendidikan kurang berjalan karena tidak memiliki kontrol terhadap materi apa saja yang didapatkan oleh peserta internship di dunia kerja. Jika mendapat pembimbing lapangan yang baik, maka pencapaian cenderung baik, namun bila pembimbing lapangan tidak baik maka hasil juga akan tidak baik.
  • Perlu persiapan yang intensif agar peserta didik memiliki kemandirian, kematangan profesional serta kedewasaan agar bisa mengikuti program internship dengan sukses. Jika peserta tidak mampu menghadapi tekanan dan tantangan maka besar kemungkinan akan gagal.
  • Kesuksesan program internship sangat tergantung pada tempat pelaksanaan program. Padahal sangat sulit untuk mendapatkan institusi mitra dari dunia kerja yang memiliki komitmen dan kemampuan untuk menjadi pembimbing yang baik dalam program internship.
Potensi Penerapan di SMK

Secara umum, pola internship bisa diterapkan di SMK dalam bentuk Prakerin yang dimodifikasi, bahkan bisa diintegrasikan dengan uji kompetensi akhir sebelum siswa SMK lulus. Idealnya prrogram internship bisa dilaksanakan secara total di tahun terakhir (kelas 12) dan langsung dilakukan “sertifikasi” di lokasi kerja. Sertifikasi melalui uji kompetensi sesuai dengan jurusan dan bidang kerja pada saat program internship dilakukan. Hal ini juga dapat membuat proses rekrutmen oleh dunia kerja bisa langsung dilakukan begitu siswa selesai internship karena tidak ada jeda kembali ke sekolah untuk melaksanakan uji kompetensi, ujian sekolah dan ujian nasional yang panjang.

Namun ada beberapa kendala yang harus dihadapi SMK untuk menerapkan hal tersebut saat ini, yaitu:
  • Tidak tersedianya mitra DUDI yang cukup, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas untuk melaksanakan program internship.
  • Kendala pelaksanaan kurikulum nasional dimana ada ujian sekolah, uji kompetensi, ujian nasional serta pemenuhan muatan pelajaran lain yang sangat banyak yang harus dipenuhi oleh SMK (seperti Sejarah, Kewarganegaraan, Penjaskes, dll), sehingga sulit untuk “membebaskan” siswa secara total di 1 tahun terakhir.
  • Perlunya aturan yang jelas untuk medukung pola sertifikasi siswa SMK yang didasarkan pada kegiatan internship sebagai tambahan dari uji kompetensi.
  • Belum siapnya siswa secara teknis dan mental untuk terjun langsung ke dunia kerja dengan persiapan hanya 2 tahun , sementara beban materi pelajaran non-produktif sangat besar.
Referensi: The Handbook of Work Based Learning, 2004. Ian Cunningham, Graham Dawes and Ben Bennett. Gower Publishing Limited, England.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...