18 Maret 2012

Manajemen Inovasi

Peter Drucker menyatakan bahwa walaupun pentingnya inovasi sudah sangat jelas, namun bagaimana cara mencapainya tetaplah menjadi petanyaan besar yang sulit dijawab. Dalam tataran praktis, mengenali kebutuhan untuk menjadi inovatif dan cara mencapainya adalah dua hal sangat berbeda. Hal ini sudah disadari oleh banyak pimpinan. Jadi tantangan terbesar organisasi saat ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas untuk menjadi inovatif. Berikut ulasan singkat tentang buku Innovation Management (2005) yang ditulis oleh Keith Goffin dan Rick Mitchell, keduanya Profesor dari Cranfield School of Management, Bedford, UK.

Inovasi sendiri bermakna "memperkenalkan sesuatu yang baru" menurut Kamus Bahasa Inggris Oxford. Sementara Peter Drucker menterjemahkannya kedalam makna yang lebih berorientasi bisnis dan manajemen sebagai "perubahan yang menciptakan dimensi baru dari kinerja". Michael Porter, pakar manajemen Amerika mendefinisikan inovasi sebagai "gabungan dari perbaikan teknologi dan metode yang lebih baik atau cara-cara melakukan sesuatu, bisa dalam bentuk perubahan produk, perubahan proses, pendekatan pemasaran baru, bentuk distribusi baru, konsep baru... inovasi lebih banyak dihasilkan dari sebuah learning organisation (organisasi yang belajar) dari pada dari suatu litbang (R & D) yang bersifat formal".


Tidak ada "cara cepat" dalam berinovasi, mengelola inovasi adalah suatu proses yang sangat kompleks dan melibatkan banyak aspek dalam organisasi. Bisa saja suatu organisasi mampu menghasilkan banyak konsep inovasi baru, namun mampukah organisasi menjadikan inovasi-inovasi yang muncul sebagai produk atau jasa yang bisa menghasilkan? Ini pertanyaan yang tidak gampang dijawab dalam tataran praktis dan operasional.

Faktor Pendorong Inovasi

Buku ini menyimpulkan ada empat pendorong utama inovasi yang harus dilakukan dalam suatu organisasi, yaitu:
(1) Kemajuan teknologi
(2) Perubahan kebutuhan pelanggan
(3) Kompetisi yang makin sengit
(4) Perubahan lingkungan bisnis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa organisasi harus mampu "mengelola inovasi dengan baik" untuk dapat menang dalam persaingan, namun bagaimana?

Contoh Mengelola Inovasi

Dari riset yang mendalam mengenai pengelolaan inovasi, secara umum perusahaan bisnis melakukannya dengan memberikan motivasi kepada pekerja, menentukan ukuran dan sasaran kinerja yang jelas, dan menciptakan kultur bisnis yang positif dalam organisasi. Juga menjadi faktor penentu penting adalah R & D, produk baru, teknologi dan inovasi proses. Hal utama yang terpenting adalah bagaimana mengelola inovasi dengan baik.

Buku ini cukup menarik karena bernuansa Eropa, banyak contoh kasus berasal dari Inggris, Jerman dan salah satu kasus utama yang dipakai justru dari perusahaan Jepang yaitu NTT DoCoMo.

Kerangka Inovasi Pentathlon

Buku ini memperkenalkan suatu kerangka kerja (framework) yang menarik bernama Innovation Pentathlon Framework. Kenapa diberi nama pentathlon? Penulis menjadikan lomba lari jarak jauh sebagai ilustrasi, lomba lari mencerminkan suatu proses panjang inovasi yang harus dikelola, prosesnya dibagi kedalam lima bagian utama. Namun karena kompleksnya, kelima bagian tersebut tidaklah harus berupa urutan, jadi proses bisa dilakukan dari titik manapun tergantung keadaan organisasi.

Kelima bagian kerangka ini adalah:
- Strategi inovasi
- Ide-ide
- Penentuan prioritas
- Implementasi
- SDM dan organisasi

Konsep ini didasarkan pada keyakinan bahwa proses pengelolaan inovasi tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek tertentu saja dalam organisasi, tetapi merupakan integrasi dari kelima aspek tersebut. Kelima hal itu harus dikelola secara komprehensif dan saling mendukung.

Strategi inovasi harus dimiliki oleh suatu organisasi agar bisa sukses dalam mengelola inovasi. Strategi ini mencakup arah inovasi yang akan dituju, cara-cara mencapainya, integrasi aspek penting untuk mencapainya serta tak kalah penting adalah menyusun ukuran keberhasilannya.

Ide adalah bahan mentah dari inovasi, pimpinan harus menjamin bahwa ide-ide dapat tercipta dan mengalir lancar dalam organisasinya. Harus diciptakan suatu suasana yang mendukung terciptanya ide-ide di seluruh bagian organisasi. Ide yang baik merupakan gabungan dari aspek teknis, pelanggan dan kebutuhan pasar. Inovasi sendiri mencakup produk/jasa baru dan proses baru atau proses lama yang diperbaiki, jadi bahan baku pembentuknya berupa ide-ide harus dijaga agar bisa mengalir dalam jumlah banyak dan dalam scope yang luas.

Proses inovasi yang efisien harus mampu menjamin bahwa ide-ide yang muncul bisa dijaring dan dipilih yang paling sesuai dengan strategi inovasi organisasi. Pemberian prioritas ini sangat penting karena tanpa kemampuan memilah-milah dan pemahaman mendalam atas strategi organisasi maka aliran deras ide-ide akan menjadi mubazir. Hal penting juga adalah kecepatan dalam melakukan pemilahan dan penentuan prioritas, tanpa speed maka ide-ide bisa menjadi kadaluarsa atau bahkan bisa menurunkan semangat tim dalam menghasilkan ide. Ide-ide yang telah diprioritaskan kemudian akan dibawa ke ranah implementasi.

Mengubah ide-ide secara cepat menjadi produk/jasa, proses atau gabungan keduanya adalah tantangan berikut. Ide brilian saja tidak cukup untuk menjadi suatu inovasi yang berhasil guna. Tahap ini melibatkan berbagai hal penting seperti pengorganisasian tim lintas bidang, pembuatan prototipe dan uji coba. Dalam organisasi bisnis, proses ini juga harus selalu mempertimbangkan aspek komersialisasi. Produk/jasa atau proses bisnis baru tidak akan banyak berguna apabila tidak bisa menggerakkan pelanggan untuk menggunakannya dan mendatangkan profit bagi organisasi.

Hal fundamental berikutnya dalam pengelolaan inovasi ini adalah aspek SDM dan organisasi. Tahap ini mencakup kegiatan seperti rekrutmen, job design, desain struktur organisasi, hingga pembentukan kultur organisasi yang mendukung inovasi. Tanpa tim yang solid serta organisasi yang punya atmosfir kerja positif, maka mustahil inovasi bisa dikelola dengan baik dan menghasilkan hasil optimal bagi organisasi.

Kerangka kerja inovasi pentathlon ini tentu saja memerlukan pendalaman dalam sisi teknis operasional didalam organisasi. Mudah saja mensyaratkan strategi misalnya, namun amatlah sulit menjalankannya di lapangan. Buku ini memberi banyak alat bantu dan contoh-contoh kasus yang mudah dimengerti untuk membantu organisasi menjadi inovatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...