18 November 2011

Manajemen Perubahan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional

SMK bertaraf internasional adalah hal yang relatif baru di Indonesia. Saat ini sekolah-sekolah Indonesia terbaik sedang berpacu menjadikan diri mereka sebagai sekolah bertaraf internasional (SBI). Belum ada "pelajaran" dan "pengalaman" yang bisa dijadikan acuan dalam "pergerakan" menuju level mewah ini. Menurut pengamatan saya, sekolah-sekolah yang mendapatkan status RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) berusaha dengan berbagai pendekatan yang dikembangkan sendiri-sendiri memenuhi berbagai kriteria sebuah SBI yang ditetapkan pemerintah.

Ditengah keadaan ini, ditulislah sebuah disertasi Doktor untuk Program Pascasarjana (PPS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berjudul "Manajemen Perubahan Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional". Menarik karena mengambil tema sentral "change management". Penulis dan penelitinya adalah Dr. Effendie Tanumihardja. Sidang pengesahan Doktor dilakukan pada tanggal 7 September 2010. Berikut ringkasan disertasi tersebut yang mungkin berguna untuk dipakai para pimpinan sekolah RSBI maupun SBI.


Disertasi ini mengambil fokus pada tingkat pendidikan menengah kejuruan bertaraf internasional, penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen perubahan yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Kejuruan Bertaraf Internasional (SMK-BI), mendapatkan model manajemen perubahan SMK-BI yang ada dan mengembangkan model manajemen perubahan yang seharusnya. Hasil penelitian yang diperoleh adalah deskripsi manajemen perubahan yang dilakukan oleh SMK-BI, model manajemen perubahan SMK-BI yang ada, dan model manajemen perubahan SMK-BI yang seharusnya.

Berikut simpulan dari hasil penelitian tersebut:

(1) Manajemen perubahan yang terjadi di 6 SMK-BI sampel di Yogyakarta belum berjalan dengan baik. Kelemahan utama yang terjadi dikarenakan kurangnya pemahaman guru. Resistensi terhadap perubahan terjadi pada para guru senior yang sudah hampir pensiun atau yang tidak mampu mengikuti perubahan secara dinamis. Standar belum tercapai meliputi proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris, rasio pendidik S2/S3 sebesar 30%, adanya e-library, dan nilai ijazah/raport > 7,5.

(2) Beberapa contoh model manajemen perubahan meliputi kegiatan seperti penerimaan siswa melalui seleksi akademik dan bakat, siswa wajib ikut pelatihan bahasa Inggris dan ICT yang difasilitasi sekolah, peningkatan kompetensi bahasa Inggris dan ICT untuk guru/laboran secara intensif, implementasi ISO 9001:2000 dan ISO 9001:2008, serta penyesuaian visi, misi, fasilitas dan budaya pendidikan terhadap standar internasional.

(3) Model manajemen perubahan ideal yang ditawarkan adalah berdasar konsep Kurt Lewin yang dimodifikasi dengan memasukkan pengaruh faktor eksternal yang ikut mempengaruhi. Model ini memiliki fase "unfreeze" (pelibatan dan motivasi tim serta penciptaan pengertian); "change" (aksi penyelesaian proyek); "freeze" (akhir penyelesaian pekerjaan). Faktor eksternal yang harus dikelola adalah perubahan kebijakan pendidikan kejuruan, dampak perubahan dunia kerja, dll.

Aspek-aspek penentu keberhasilan manajemen perubahan SMK-BI yang ditemukan oleh peneliti meliputi:
  • budaya sekolah
  • organisasi sekolah
  • kebijakan sekolah
  • budaya pembelajaran guru
  • gaya belajar siswa
  • kekuatan kepemimpinan
  • landasan nilai dan visi perubahan.
Penelitian ini menggunakan obyek 8 SMK-BI di Yogyakarta (kepala sekolah dan guru), pakar pendidikan kejuruan (3 orang), praktisi pendidikan kejuruan (9 orang).

Berikut saya sampaikan juga beberapa cuplikan berita mengenai SBI yang berhubungan dengan betapa tidak gampangnya memenuhi persyaratan sebagai sekolah SBI. Inilah beberapa kutipan pendapat para pengelola RSBI dari koran online Republika.
"Kita akui, selama lima tahun pelaksanaan RSBI, masih banyak hal yang belum bisa dicapai sebagaimana disyaratkan dalam pembentukan awalnya," kata Trijoko, seorang guru sekolah berstatus RSBI, SMA Negeri 1 Purwokerto. Dia juga menyebutkan, persyaratan bahwa 60 persen guru di sekolah RSBI harus bergelar S-2, masih sangat sulit dicapai sekolahnya. "Sulit bagi kita untuk memenuhi ketentuan itu," katanya. Disebutkan, banyak guru-guru di sekolah-sekolah yang kini berstatus RSBI, merupakan guru-guru lama yang usianya sudah tidak muda lagi. "Mereka ini, kalau dipaksa untuk sekolah S-2 tentu sulit," jelasnya. Untuk biaya pendidikan, Trijoko menyebutkan bahwa pemerintah pusat selama ini tidak pernah mengalokasikan dana khusus pada upaya peningkatkan derajat pendidikan guru-guru di sekolah RSBI. "Jadi kegagalan program RSBI dalam mencapai tujuan peningkatan kualitas pendidikan sekolah di Indonesia, tidak bisa diserahkan tanggung jawabnya hanya pada pihak sekolah. Selama ini, pemerintah juga cenderung tidak mendorong sekolah-sekolah yang berstandar RSBI untuk meningkatkan kualitas pendidikannya," tegasnya. 
Berikut pengakuan lain seputar sulitnya pelaksanaan RSBI.
Ketua Komite Sekolah SMP Negeri 1 Purwokerto, yang juga merupakan salah satu SMP berstatus RSBI, Agus Nar Hadie, mengatakan "Selama ini yang dikejar pihak sekolah hanya kelengkapan sarananya saja, dengan menarik dana sebesar-besarnya dari orang tua siswa. Sementara upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui kualitas mengajar gurunya, masih sangat kurang. Jangankan menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa Inggris, menguasai bahasa Inggris untuk percakapan saja mungkin grammer-nya masih belum betul. Kalau anak didik yang pintar bahasa Inggris mendengarkan, 'kan bisa kacau." 
Untuk mendapatkan akses ke disertasi di PPS UNY, silahkan lihat detail di website Perpustakaan UNY http://library.pps.uny.ac.id. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...